Selasa, 05 Agustus 2008

Tugas 5 SP Psikologi Umum

TUGAS 5
SP Psikologi Umum
1.Carilah Informasi Tentang Motivasi, Frustasi, dan Konflik!
a. Motivasi
Manusia bukanlah benda yang bergerak hanya bila ada daya dari luar yang mendorongnya, melainkan makhluk yang mempunyai daya-daya dalam dirinya sendiri untuk bergerak. Inilah yang disebut motivasi. Oleh karena itu motivasi sering disebut penggerak perilaku (the energizer of behavior). Ada juga yang mengatakan bahwa motivasi adalah penentu (determinan) perilaku. Dengan kata lain, motivasi adalah suatu konstruk teoritis mengenai terjadinya perilaku. Menurut para ahli, konstruk teoritis ini meliputi aspek-aspek pengaturan (regulasi), pengarahan (direksi), serta tujuan (insentif global) dari perilaku. Seluruh aktivitas mental yang dirasakan/dialami yang memberikan kondisi hingga terjadinya perilaku tersebut disebut motif.
Motivasi dalam pengertian ilmunya adalah suatu konstruk terjadinya tingkah laku. Dalam membahas tentang motivasi, sering kita menemukan beberapa istilah yang mengandung relevansi dengan motivasi. Motif dipakai untuk menunjukkan keadaan dalam diri seseorang yang berasal dari akiat suatu kebutuhan. Motif sebagai pendorong yang tidak berdiri sendiri, tetapi saling berhubungan dengan faktor lain. Hal-hal yang mempengaruhi motif adalah motivasi. Motif yang kadang disebut motivasi yang mengaktifkan dan yang membangkitkan perilaku yang tertuju pada pemenuhan kebutuhan.
Motivasi merupakan keadaan dalam diri individu atau organisme yang mendorong perilaku kea rah tujuan. Karena itu motivasi mempunyai 3 aspek, yaitu:
•Keadaan terdorong dalam organisme, yaitu kesiapan bergerak karena kebutuhan, misalnya kebutuhan jasmani, karena keadaan lingkungan atau karena keadaan mental seperti berfikir dan ingatan.
•Perilaku yang timbul dan terarah karena keadaan.
•Tujuan (goal) yang dituju oleh perilaku tersebut.

b. Frustasi
Bila muncul suatu kebutuhan atau dorongan untuk bertindak, tetapi karena sesuatu hal maka kebutuhan tidak terpenuhi atau dorongan untuk bertindak terhambat, maka timbul situasi yang disebut frustasi. Frustasi dapat diartikan suatu kebutuhan tidak dapat terpenuhi atau pemenuhan kebutuhan itu tertunda. Biasanya secara teknis keadaan yang pertama disebut frustasi, dan keadaan kedua disebut privasi.
Faktor-faktor yang menyebabkan frustasi adalah:
•Hambatan fisik individu. Ini bisa berarti karena untuk memenuhi kebutuhan itu fisik individu terlalu lemah atau karena hal-hal lain (misalnya cacad) karena fisik tedak mendukung perilaku individu.
•Hambatan fisik diluar diri individu. Misalnya ada larangan tertentu, atau hal-hal sederhana seperti terkunci dalam ruangan, dll.
•Hilangnya rangsangan memperkuat timbulnya kebutuhan.
•Dilakukannya tindakan yang kurang tepat sehingga kebutuhan tidak terpenuhi.

c.Konflik
Konflik merupakan keadaan munculnya dua kebutuhan atau lebih pada saat yang bersamaan. Dalam kenyataannya dorongan-dorongan atau kebutuhan-kebutuhan tidak selalu muncul satu persatu. Sebenarnya, sering kali munculnya dua kebutuhan atau lebih pada saat yang sama. Berdasarkan akibat yang ditimbulkan dari tindakan yang dilakukan, Kurt Lewin (1890-1947), seorang psikologi social terkenal, membedakan beberapa konflik, yaitu:
•Konflik approach-approach, yaitu apabila dua kebutuhan (atau lebih) yang muncul bersamaan, keduanya mempunyai nilai positif bagi individu.
•Konflik approach-avoidance, yaitu apabila satu kebutuhan yang muncul mempunyai nilai positif dan negative sekaligus bagi individu.
•Konflik multiple approanch-avoidance, yaitu apabila muncul lebih dari dua kebutuhan yang mempunyai nilai-nilai positif dan negatif sekaligus bagi individu.
Konflik ini sangat bersiafat subyektif dan tidak selalu mencerminkan kenyataan yang sebenarnya di luar individu. Kuat-lemahnya konflik bagi individu tergantung dari berbagai faktor sebagai berikut:
•Bobot-bobot kebutuhan yang timbul. Bila keduanya sangat penting, maka konflik yang terjadi akan semakin kuat.
•Waktu tibanya insentif. Makin dekatnya jarak insentif, maka makin kuat konflik terasa.
•Biasanya konflik avoidance-avoidance terasa kuat disbanding konflik approach-approach, terutama bila insentif sudah dekat. Bila insentif masih jauh maka sebaliknya yang terjadi.
•Besarnya insentif. Semakin besar insentif akan semakin kuat konflik yang dirasakan.

2. Apa yang dimaksud dengan Kepribadian dan Bagaimana Cara Mengukurnya!
a. Pengertian Kepribadian
Dalam bahasa Inggris istilah untuk kepribadian adalah personality. Istilah ini berasal dari sebuah kata Latin persona, yang berarti topeng, perlengkapan yang selalu dipakai dalam pentas drama-drama Yunani Kuno. Istilah ini kemidian diadopsi oleh orang-orang Roma dan mendapatkan konotasi baru “sebagaimana seseorang nampak di hadapan orang lain”. Konotasi seperti ini seolah-olah menunjukan bahwa kepribadian bukanlah diri orang tersebut yang sebenarnya. Sebagai suatu bidang studi empiris, konotasi itu sudah banyak berubah.
Para psikolog dan filsuf nampaknya mulai sepakat bahwa manifestai kepribadian dapat dilihat dari:
•Kenyataan yang bersifat biologis (Umwelt).
•Kenyataan psikologis (Eigenwelt)
•Kenyataan social (Mitwelt)
Ketiga kenyataan ini menggejala menjadi satu kesatuan (whole) yang disebut kepribadian. Berbagai macam pengertian /definisi kepribadian menurut ilmuwan psikologi, yaitu:
Mc. Dougall. dkk. (1930), Kepribadian adalah tingkatan sifat-sifat dimana biasanya sifat yang tinggi tingkatnya mempunyai pengaruh yang menentukan.
Morton Prince (1924), Kepribadian adalah kumpulan pembawaan biologis berupa dorongan, kecenderungan, selera dan instink yang dicampuri dengan sifat dan kecenderungan yang didapat melalui pengalaman yang terdapat pada diri seseorang.
E. Y. Kempt (1921), Kepribadian adalah integrasi dari sistem kebiasaan-kebiasaan yang menunjukkancara khas pada individu untuk menyesuaikan dirinyadengan lingkungannya.
Warren dan Carmichael (1930), Kepribadian adalah keseluruahn organisasi yang terdapat pada diri manusia, pada setiap perkembangannya.
Menurut Sarlito Wirawan Sarwono (1976), ada beberapa karakteristik untuk mengenali kepribadian, yaitu: Penampilan fisik, Temperamen, Kecerdasan, dan Kemampuan, Arah minat dan pandangan mengenai nilai-nilai, sikap Sosial, Kecenderungan dalam motivasi, Cara-cara pembawaan diri, dan Kecenderungan Patologis.
 Carl G. Jung (1875-1961), memberikan tiga jenis Kepribadian, yaitu:
- Introvert. Orang yang kepribadian introvert cenderung menutup diri dan menyendiri. Pemalu, lebih suka bekerja sendiri.
- Ekstrovert. Orang dengan kepribadian ini cenderung menggabungkan diri diantara orang banyak sehingga individualitasnya berkurang. Pemarah, memiliki jiwa sosial.
- Ambivert. Orang pada kepribadian ini tidak termasuk introvert dan tidak termasuk ekstrovert.
 Pandangan seperti di atas tidak jauh berbeda dengan yang pernah dinyatakan oleh seorang psikolog terkemuka Gordon W. Allport (1897-1967): the dynamic organization within the individual of those psycophysical systems that determine the individual’s unique adjustments to the environment”. Kepribadian adalah organisasi dinamis dari sistem-sistem psikofisik dalam diri individu yang menentukan penyesuaian yang unik (khusus) terhadap lingkungannya
Kata dinamis menunjukan bahwa kepribadian bisa berubah-ubah, dan antara berbagai komponen kepribadian (yaitu sistem-sistem psikofisik) terdapat hubungan yang erat. Hubungan-hubungan itu terorganisir sedemikian rupa sehingga secara bersama-sama mempengaruhi pola prilakunya dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan.

b. Pengukuran Kepribadian
Dalam kehidupan sehari-hari, kita sebenarnya sering melakukan penilaianterhadap kepribadian seseorang. Tetapi kita sering melakukan penilaian berdasarkan ciri-ciri stereotip dari ciri-ciri kelompok dimana orang tersebut ikut sebagai anggotanya (orang kota itu individualis, orang batak kasar-kasar, dll). Kita jua cenderung hanya menilai orang berdasarkan salah satu ciri tertentu yang kita sukai atau tidak kita sukai. Penilaian dengan cara ini sangat menyesatkan dan disebut ballo effect. Selain itu, kita cenderung mengharapkan penilaian baik buruk pada ciri-ciri kepribadain tertentu. Pengukuran kepribadain di bidang psikologi tidak bermaksud untuk menerapkan label nilai-nilai moral (value label), tetapi untuk mendeskripsikan perilaku seperti apa adanya.

Ada tiga metode pengukuran kepribadian, yaitu:
• Metode Obsevasi
Seorang pengamat yang sudah terlatih dapat melakukan observasi terhadap perilaku yang terjadi dalam keadaan nomal/wajar, situasi eksperimen, maupun dalam konteks suatu interview. Informasi yang diperoleh melalui metode ini bisa dicatat pada suatu bagan yang sudah dibakukan, seperti pada rating scale. Menggunakan skala rating ini, penilaian pengamat terhadap suatu perilaku dapat dicatat secara sistematis. Selain itu, bila dilakukan suatu interview terstruktur, alat pencatat seperti tape recorder atau peralatan pembantu lain lain sudah sangat membantu.
• Metode Inventori
Metode ini menghandalkan pada hasil obsevasi subjek terhadap dirinya sendiri. Suatu inventori (personality inventory) merupakan pertanyaan-pertanyaan atau pernyataan-pernyataan yang harus diisi atau dipilih oleh subjek berdasarkan ciri-ciri yang dianggap ada dalam dirinya sendiri. Alat-alat semacam ini misalnya adalah MMPI (Minesota Multibhasic personality inventory) yang terdiri dari kurang lebih 550 pernyataan. Selain itu ada C.P.I (California Psychological Inventory), Guilford-Zimmerman Temperament Survey, Sixteen personality Questionnaire (16 PF) yang dikembangkan oleh Carettel, dll. EPPS (Edwards Personal Preference Schedule) merupakan contoh inventori yang banyak di pakai di Indonesia.
• Metode Proyektif
Cara lain yang digunakan untuk mengukur kepribadian adalah dengan cara teknik proyektif. Asumsi dasarnya adalah bahwa untuk memperoleh gambaran yang bulat tentang seseorang diperlukan kebebasan untuk mengekspresikan dirinya. Tes proyektif yang digunakan dalam metode ini biasanya berupa sesuatu rangsang (berbentuk gambar) yang sifatnya yang sangat ambigu, tidak jelas. Bila dihadapkan dengan situasi ini, individu akan mencoba menerapkan persepsinya yang sudah dipengaruhi oleh berbagai pengalamannya di masa lampau. Ekspresinya dalam mengungkapkan apa yang dilihat bisa cukup bebas karena gambar itu bisa ditafsirkan sesuka hati individu.

3. Jelaskan Apa yang Anda Ketahui Tentang Interaksi Sosial!
Interaksi antara individu dengan sesamanya inilah yang disebut interaksi sosial. Sejak kecil kita semua telah terbiasa tergantung pada lingkungan sosial kita, orang-orang disekitar kita. Walau ketergantungan ini semakin berkurang pada waktu manusia meningkat dewasa, tetapi ada dalam bentuknya yang sangat bervariasi. Manusia selalu membutuhkan manusia yang lain hamper dalam segala hal. Dengan kata lain, interaksi sosial merupakan suatu bidang studi mengenai bagaimana seseorang mempengaruhi orang lain tersebut beraksi terhadap pengaruh yang dirasakannya.
Salah satu faktor yang sangat mempengaruhi aksi dan reaksi dalam situasi sosial adalah persepsi sosial. Persepsi sosial sebenarnya adalah kesadaran individu akan adanya orang lain atau perilaku orang lain yang terjadi di sekitarnya. Lebih lanjut persepsi sosial diartikan sebagai penilaian terhadap penampilan fisik (physical appearance) dan ciri-ciri perilaku orang lain.

4.Normalitas Seseorang Ditandai Dengan:
a.Persepsi yang efisien terhadap kenyataan yang dihadapi.
b.Mengenal dirinya sendiri.
c.Mampu mengendalikan perilakunya.
d.Memiliki harga diri dan diterima oleh lingkungannya.
e.Mampu memberi perhatian kepada orang lain.
f.Produktif.
Lengkapi dengan normalitas di lingkungan Anda!

Banyak ahli berpendapat bahwa mendefinisikan normalitas justru lebih sulit daripad abnormalitas, khususnya dalam suatu masyarakat yang berubah dengan cepat. Walau terdapat kontroversi di sana-sini, tetapi nampaknya kebanyakan psikolog sepakat bahwa suatu kepribadian yang normal atau sehat, mempunyai ciri-ciri seperti tercermin dari criteria di bawah ini:
 Sikap Terbuka. Seorang dalam melakukan hubungan interpersonal, memiliki sikap terbuka agar komunikasinya efektif. Adapun orang yang bersikap terbuka memiliki indikator sebagai berikut:
-Menilai pesan secara obyektif dengan menggunakan data dan keajegan logika.
-Membedakan dengan mudah. Melihat nuansa.
-Berorientasi pada sisi.
-Mencari sumber dari berbagai sumber.
-Lebih bersifat professional dan bersedia mengubah kepercayaannya,
-Mencari pengertian pesan yang tidak sesuai dengan rangkaian kepercayaannya.

 Sikap Suportif adalah sikap yang mengurangi sikap defensif (pembelaan diri) dalam komunikasi. Orang yang tidak menerima dan tidak jujur serta tidak empatis, maka cenderung orangnya bersikap defensif. Orang yang bersikap defensif cenderung evaluatif, kontrolois, strategis, netralis, superioritas, dan penuh kepastian.
 Simpati dan Empati. Kedua perasaan ini berhubungan dengan perasaan seseorang dalam hubungan dengan orang lain. Simpati, pengertian yang sederhana adalah perasaan terhadap orang lain. Perasaan yang bagaimana? Simpati ialah suatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan segala sesuatu yang sedang dirasakan orang lain. Dengan kata lain, suatu kecenderungan untuk ikut serta merasakan sesuatu yang sedang dirasakan orang lain. Di sini ada situasi: Feeling with person. Simpati dapat timbul karena persamaan cita-cita, mungkin karena penderitaan yang sama, atau karena berasal dari daerah yang sama, dsb.
Gejala perasaan yang berlawanan dengan simpati ialah antipati. Gejala perasaan ini menunjukkan ketidaksenangan kepada orang lain. Ketidaksenangan ini berupa kebencian. Dari kebencian ini terdapat unsur berlawanan/bemusuhan. Antipati ini timbul karena bermacam-macam sebab seperti halnya simpati. Empati ialah suatu kecenderungan untuk merasakan sesuatu yang dilakukan orang lain andaikata dia dalam situasi orang lain. Karena empati, orang menggunakan perasaannya dengan efektif di dalam situasi orang lain, didorong oleh emosinya seolah-olah dia ikut mengambil bagian dalam dalam gerakan-gerakan yang dilakukan orang lain.
 Perasaan Harga Diri
Perasaan ini merupakan perasaan yang menyertai harga diri seseorang. Perasaan ini dapat positif, yaitu timbul kalau orang mendapatkan penghargaan terhadap diringa. Perasaan ini dapat meningkat kepada perasaan harga diri lebih. Tetapi perasaan ini juga dapat bersifat negatif yaitu bila orang mendapatkan kekecewaan. Ini dapat menimbulkan rasa harga diri kurang. Perasaan harga diri lebih jauh dikupas oleh Alfred Adler, sebagai seorang tokoh dalam psikologi individual.
 Kepercayaan (Trust)
Percaya didefinisikan sebagai mengandalkan perilaku orang untuk mencapai tujuan yang dikehendaki, yang pencapaiannya tidak pasti dalam situasi yang penuh resiko (Giffin; 1967:224-2234). Ada tiga unsur percaya, yaitu:
-Ada situasi yang menimbulkan resiko. Bila ada seseorang menaruh kepercayaan pada orang lain, maka ia akan menghadapi resiko.
-Orang yang menaruh kepercayaan kepada orang lain, berarti dia menyadari bahwa akibat-akibatnya akan bergantung pada perilaku orang lain.
-Orang yang yakin bahwa perilaku orang lain akan berakibat baginya.

Tidak ada komentar: